Selasa, 11 Juni 2013

PKH Provinsi Lampung : Sebuah Catatan Kecil

Program Keluarga Harapan (PKH) Provinsi Lampung memang bukan yang terbaik dalam pelaksanaannya di Indonesia, tetapi paling tidak ada beberapa catatan penting yang dalam penilaian penulis yang juga sebagai Pendamping PKH di Kabupaten Pringsewu tentang sangat pentingnya keberadaan dari PKH di tengah masyarakat. Satu diantaranya adalah mekanisme pendampingan yang menyentuh pada sesi pemberdayaan keluarga yang disinergikan dengan beberapa komponen pembangunan pada daerah dimana ada pengembangan PKH sangat berdampak positif. Sebagai contoh terbentuknya KUBE-KUBE PKH pada kelompok-kelompok PKH bentukan pasca pertemuan awal saat validasi peserta. Bahkan sinergi yang ada dapat melahirkan lapangan kerja baru bagi para RTSM peserta PKH, dan dari pengamatan yang ada penciptaan lapangan pekerjaan baru bisa saja diperluas bilamana terjadi tingkat sinergitas dan pengembangan usaha yang lebih besar dan lebih produktif.

Salah satu contoh KUBE PKH yang terbentuk pasca pertemuan awal adalah KUBE PKH Lestari yang terletak di Desa Waringinsari Barat Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Walau hanya memproduksi kelanting pedas, itupun kelanting getuknya masih belum bisa buat sendiri (masih belum punya mesin gilingnya), akan tetapi dari pekerjaan produksi sudah bisa menyediakan lapangan kerja baru bagi beberapa anggota kelompoknya terutama untuk bagian produksi, pengepackan dan distribusi ke warung-warung. Dari prosesnya yang ada tetap ada sebagian keuntungan yang menjadi bagian untuk memperbesar aset kelompok. Sebagai pendamping penulis sangat berharap apa yang ada di Kelompok PKH Lestari Desa Waringinsari Barat ini mendapat suport dari stakeholder terkait terutama leading sector program keluarga harapan di Kabupaten Pringsewu untuk setidaknya memberi perhatian yang lebih serius, syukur-syukur kalau ada sedikit bantuan dana pembinaan atau bantuan insentif transport kepada pendamping terkait apa yang dikerjakan. Penulis anggap itu suatu kewajaran, karena apa yang dicapai oleh KUBE PKH Lestari sekalipun masih terlalu dini untuk dikatakan berhasil setidaknya menyumbang nilai plus untuk Tim UPPKH Kabupaten Pringsewu hingga meraih PKH Award Tahun 2013 dalam katagori “PENDAMPING-PENDAMPING KREATIF DALAM MENGGERAKAN PEMBERDAYAAN RTSM PKH ( FAMILY DEVELOPMENT SESSION ) TAHUN 2013”. 
Para penerima PKH Award 2013


Sekalipun sesi pemberdayaan RTSM PKH atau Family Development Session kurikulumnya belum sepenuhnya diterima Pendamping PKH untuk dilaksanakan, setidaknya apa yang sudah disampaikan sebagai salah satu materi Diklat Pendamping PKH tahun 2012 yang lalu bisa menjadi titik awal untuk memulai tindakan pemutusan rantai kemiskinan yang ada. Walau terkesan mustahil untuk mengubah RTSM untuk menjadi tidak miskin dengan dana bantuan yang tidak seberapa, anata Rp 600.000,- sampai denagan maksimal Rp 2.200.000,- akumulasi per peserta per tahunnya, tetapi dengan adanya sinergitas pelaksanaan KUBE PKH dengan komponen terkait dan lintas sektoral bukan mustahil peningkatan harkat dan taraf hidup yang lebih baik bisa dicapai. Sampai sejauh ini sebagai Pendamping PKH, penulis masih terus mengupayakan untuk peningkatan kemampuan sumberdaya manusia/ kelompok PKH Lestari dalam hal manajemen kerja kelompok dan pengadministrasian kegiatan dan keuangan. Sudah pasti dengan kemampuan dan pengetahuan pas-pasan yang penulis miliki. Tetapi tetap untuk label atau kerek dagang yang melengkapi kemasan dagang produk KUBE PKH Lestari sepenuhnya pendamping sediakan secara swadaya dan didisain sendiri, maksudnya sekaligus untuk dijadikan sarana penyampaian informasi terkait PKH yang merupakan Program yang tidak sekedar bagi-bagi uang gratis tetapi ada juga pemanfaatannya untuk sesi pemberdayaan agar bisa menjadi wasila atau jalan untuk menuju perbaikan harkat RTSM peserta PKH.
Pringsewu dengan jumlah 5.225 RTSM adalah salah satu Kabupaten pengembangan PKH tahun 2012, yang sementara ini PKH ada di 7 kecamatan dari 8 kecamatan yang ada sebelum pemekaran wilayah kecamatan

Memang kami di Kabupaten Pringsewu belum melakukan verifikasi terhadap pelaksanaan dan komitmen peserta PKH atas kewajibannya memenuhi absensi minimal 85% tingkat kehadiran di fasdik dan faskes, akan tetapi dari aktifitas yang ada dibebrapa kelompok menunjukkan gairah yang meningkat untuk peserta PKH mendatangi posyandu dan mengontrol anak-anak ART PKH untuk sekolah. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memperoleh presatasi sebagai rangking pertama di sekolah. Disamping itu adanya pemberdayaan RTSM dibeberapa kelompok PKH yang ada menunjukkan kegairahan yang besar dari kaum ibu pengurus peserta PKH bersangkutan, ini seharusnya segera disinergikan dengan berbagai pihak terkait bisa saja dari kalangan penyedia dana CSR. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar